HOTLINE SERVICE : 0822-1177-6953 (SEMARANG) - 0817-103-689 (KUDUS)
Chery Semarang - Jl. dr. Cipto no.76 A, Semarang (0818-508-338) | Chery Kudus - Jl. Lingkar Timur Kudus KM. 4, Kudus (0818-508-339)

Rencana pembangunan pabrik Chery Indonesia kembali menjadi perhatian seiring meningkatnya aktivitas bisnis Chery Group di Tanah Air. Meski saat ini produksi kendaraan Chery, Jaecoo, dan iCar masih memanfaatkan fasilitas perakitan milik PT Handal Indonesia Motor, perusahaan membuka peluang untuk membangun fasilitas manufaktur sendiri.

Manajemen Chery menyebut keputusan investasi tersebut masih dikaji dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kepastian regulasi dan dukungan pemerintah. Di sisi lain, Chery juga mempercepat penggunaan komponen lokal untuk memenuhi target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 60 persen.

Pabrik Chery Indonesia Masih dalam Tahap Kajian

Presiden Direktur PT Chery Group, Zeng Shuo, mengatakan pembangunan pabrik mandiri membutuhkan perencanaan jangka panjang. Karena itu, kepastian regulasi menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum perusahaan mengambil keputusan investasi.

“Jadi investment-nya biasanya bukan short term. Biasanya kita long term. Jadi regulasi yang konsisten sama stabil amat penting biar industri sehat dan berkembang,” ujar Zeng Shuo saat ditemui di Wuhu, China.

Saat ini, produksi sejumlah model Chery Group di Indonesia masih dilakukan melalui kerja sama dengan PT Handal Indonesia Motor. Skema tersebut memungkinkan perusahaan memenuhi kebutuhan pasar tanpa harus langsung membangun fasilitas manufaktur sendiri.

Meski demikian, peluang pembangunan pabrik Chery Indonesia tetap terbuka apabila skema insentif dan dukungan pemerintah dinilai sesuai dengan kebutuhan investasi jangka panjang perusahaan.

Chery Targetkan TKDN 60 Persen

Selain rencana pabrik mandiri, peningkatan kandungan lokal menjadi salah satu fokus Chery di Indonesia. Perusahaan mengoptimalkan kerja sama dengan pemasok dalam negeri untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal pada kendaraan yang diproduksi di Tanah Air.

Chery juga tengah menyiapkan percepatan lokalisasi baterai sebagai bagian dari upaya memenuhi target TKDN sebesar 60 persen pada tahun berikutnya, sesuai keterangan manajemen dalam laporan ini.

“Ke depan kita juga akan tetap follow aturan sama roadmap yang sudah diset pemerintah,” tegas Zeng Shuo.

Peningkatan TKDN menjadi langkah penting bagi produsen otomotif yang ingin memperkuat rantai pasok lokal. Selain mengurangi ketergantungan pada komponen impor, lokalisasi juga dapat membuka peluang bagi pemasok domestik untuk terlibat lebih jauh dalam industri kendaraan elektrifikasi.

Namun, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada realisasi kerja sama pemasok, kesiapan produksi komponen, serta ketentuan pemerintah yang berlaku.

Investasi Chery Indonesia Capai Rp5,2 Triliun hingga 2030

Chery sebelumnya menyatakan komitmen investasi senilai Rp5,2 triliun hingga 2030. Investasi tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan bisnis dan jaringan manufaktur, baik melalui skema kemitraan maupun kemungkinan pembangunan fasilitas produksi mandiri.

Bagi Chery, peningkatan kapasitas produksi menjadi penting seiring berkembangnya portofolio kendaraan di Indonesia. Merek dalam grup tersebut tidak hanya mencakup Chery, tetapi juga Jaecoo dan iCar yang menyasar segmen serta kebutuhan konsumen berbeda.

Kepastian regulasi dan skema insentif akan menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya. Karena itu, komitmen investasi tidak serta-merta berarti pembangunan pabrik mandiri telah dimulai.

Produksi Chery Masih Mengandalkan Mitra Lokal

Sebelum memiliki fasilitas manufaktur sendiri, Chery masih memanfaatkan kerja sama produksi dengan PT Handal Indonesia Motor. Model kemitraan seperti ini memungkinkan perusahaan menjalankan perakitan kendaraan di Indonesia sembari mengembangkan jaringan pemasok lokal.

Dalam perkembangannya, Chery Group juga memperluas portofolio produknya melalui kendaraan bermesin konvensional dan model elektrifikasi. Hal tersebut membuat pengembangan rantai pasok lokal, termasuk komponen baterai, menjadi semakin relevan.

Apabila lokalisasi komponen berjalan sesuai rencana, perusahaan berpeluang memperkuat basis produksi sekaligus mendukung pemenuhan ketentuan industri otomotif Indonesia.

Chery Indonesia Mulai Menjangkau Pasar Ekspor

Selain memenuhi kebutuhan konsumen domestik, Chery Indonesia juga mengembangkan kegiatan ekspor. Salah satu langkah yang disebutkan perusahaan adalah pengiriman kendaraan dengan konfigurasi setir kiri ke Vietnam.

Aktivitas ekspor dapat menjadi bagian dari strategi memperluas pasar sekaligus meningkatkan peran Indonesia dalam jaringan bisnis Chery Group. Meski demikian, perkembangan ekspor dan rencana pembangunan pabrik mandiri merupakan dua hal berbeda yang masing-masing membutuhkan realisasi dan perencanaan tersendiri.

Bagaimana Kelanjutan Pabrik Chery Indonesia?

Rencana pembangunan pabrik Chery Indonesia masih menunggu kajian dan pertimbangan manajemen. Sementara itu, perusahaan menyatakan tetap mengikuti kebijakan pemerintah dan mengembangkan penggunaan komponen lokal.

Target TKDN 60 persen, percepatan lokalisasi baterai, komitmen investasi Rp5,2 triliun hingga 2030, serta pengembangan ekspor menjadi bagian dari arah bisnis Chery di Indonesia.

Ke depan, realisasi investasi dan kepastian pembangunan fasilitas manufaktur mandiri akan menjadi hal yang perlu dipantau. Jika rencana tersebut terealisasi, Chery berpotensi memperkuat kapasitas produksinya sekaligus memperluas keterlibatan industri komponen lokal di Indonesia.

Sumber: https://uzone.id/chery-siapkan-pabrik-mandiri-dan-kejar-tkdn-60-persen-di-indonesia